Saya ingin jujur di sini: ketika saya mulai mempelajari bahan ini, saya menemukan banyak hal baru, dan ada beberapa sifat asam azelaic yang bahkan tidak pernah saya duga sebelumnya. Asam azelaic adalah bahan aktif yang kuat, digemari oleh dermatolog karena kerjanya yang menyeluruh. Tugas seorang formulator di Walker Formulation Academy adalah menghadirkan semua efek ini secara efektif dan estetis. Namun begitu kita beralih ke konsentrasi tinggi, muncul masalah yang sudah tidak asing: pilling pada produk. Dalam panduan ini, kita akan membahas semuanya, mulai dari mekanisme kerja hingga lima strategi untuk mengatasi pilling.
Bagaimana asam azelaic bekerja pada kulit

Asam azelaic adalah asam dikarboksilat jenuh dengan 9 atom karbon (asam nonanadioat). Sebelum membahas tekstur, mari kita ingat kembali mengapa kita mau bersusah payah menghadapi segala ketidaknyamanan dari bahan aktif ini.
Aksi antibakteri
Bahan ini mengganggu metabolisme energi dan sintesis protein pada bakteri, membantu mengontrol Cutibacterium acnes dan mikroorganisme lain yang terkait dengan akne.
Aksi komedonolitik
Bahan ini menormalkan proliferasi dan diferensiasi keratinosit di folikel, mengurangi pembentukan mikrokomedo, dan membantu menjaga pori-pori tetap bersih.
Aksi antimelanogenik
Bahan ini menghambat tirosinase secara kompetitif pada melanosit yang hiperaktif. Bermanfaat untuk melasma dan hiperpigmentasi pascainflamasi (PIH).
Anti-inflamasi
Bahan ini mengurangi pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) dan melunakkan jalur sinyal inflamasi — faktor kunci pada rosacea dan akne inflamasi.
Sebagian besar efeknya terjadi di dalam epidermis, bukan hanya di permukaan kulit. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan penetrasi melalui stratum korneum dengan mengelola kelarutan dan pH secara cermat.
Fakta menarik bagi para formulator
Nilon dari kosmetik?
Molekul yang sama yang mengatasi akne dan rosacea ini juga digunakan dalam industri untuk memproduksi poliamida seperti nilon dan plasticizer. Sebuah asam dikarboksilat yang sangat serba guna!
“Larut dalam air mendidih”
Asam azelaic larut dengan baik dalam air panas, tetapi pada suhu ruang, kelarutannya turun menjadi hanya sekitar 0,2–0,3%. Contoh nyata mengapa penting untuk memeriksa kelarutan pada suhu kerja yang sebenarnya.
Mengapa asam azelaic begitu sulit ditangani

Parameter | Nilai |
|---|---|
INCI | Azelaic Acid |
Jenis | Asam dikarboksilat jenuh (C9) |
Tampilan | Serbuk kristal putih |
Titik lebur | ~105°C |
Kelarutan dalam air (25°C) | ~0,2–0,3% |
pKa₁ / pKa₂ | ~4,5 / ~5,3–5,5 |
pH kerja | 4,0–5,5 |
Konsentrasi kosmetik | 10–20% (suspensi) |
Kelarutan sangat rendah
Dalam air pada suhu ruang — hanya 0,2–0,3%. Apa pun di atas itu bukan lagi larutan, melainkan suspensi kristal.
Titik lebur tinggi
105°C — bahan ini tidak bisa begitu saja "dilelehkan dan dilarutkan" dalam emulsi standar. Ia akan mengkristal kembali saat mendingin.
Fase padat
Pada 10–20% — hampir selalu berupa suspensi kristal. Anda memerlukan polimer dan pengental untuk menstabilkannya → dan inilah yang memicu pilling.
Kelarutan dan pH: tumpuan yang tersembunyi
Asam azelaic memiliki dua gugus karboksil. Dalam air, bahan ini hadir dalam tiga bentuk: H₂A (asam bebas, lipofilik), HA⁻ / A²⁻ (garam azelat, hidrofilik). Semakin rendah pH, semakin banyak asam bebas; semakin tinggi pH, semakin banyak garam. Ini berdampak langsung pada kelarutan maupun penetrasi.
pH | Bentuk dominan | Kelarutan | Penetrasi | Formula |
|---|---|---|---|---|
< 4 | H₂A (asam bebas) | Sangat rendah | Maksimal | Suspensi, "berpasir" |
4–5,5 | Campuran H₂A + HA⁻ + A²⁻ | Sedang (dengan co-solvent) | Keseimbangan yang baik | Rentang optimal |
> 6 | Garam (azelat) | Baik | Lemah | Larutan bening, kerja lembut |
Asam vs garam: mana yang lebih baik menembus kulit
Asam bebas (pH 4–5)
Lebih lipofilik dan tidak bermuatan → lebih mudah masuk ke dalam lipid stratum korneum. Bekerja lebih efektif untuk akne, rosacea, dan hiperpigmentasi yang jelas. Kekurangan: bisa menyebabkan rasa terbakar, perih, dan kekeringan; berisiko membentuk kristal, memicu pilling, tekstur pucat.
Garam dan derivatnya (pH 6+)
Kelarutan tinggi → serum bening yang estetis. Lembut, nyaman, cocok untuk kulit sensitif. Meratakan warna kulit dan menormalkan sebum secara bertahap. Kekurangan: tidak bisa menggantikan kekuatan asam bebas untuk akne parah; efeknya lebih lambat.
Kompromi emas: pH 4–5,5 — sebagian asam azelaic berada dalam bentuk garam (kelarutan meningkat), sebagian dalam bentuk netral (penetrasi tetap terjaga). Lembut di kulit, kompatibel dengan sebagian besar polimer. Selengkapnya tentang keseimbangan pH ada di panduan pH kami.
Mengapa formula asam azelaic bisa menggumpal (pilling)

Pilling adalah masalah mekanis: produk yang mengering membentuk lapisan film yang rapuh atau kelebihan muatan fase padat, yang kemudian pecah dan menggumpal akibat gesekan, membentuk "bola-bola kecil". Ada empat faktor utama:
Kelebihan polimer kaku
Xanthan gum berbobot molekul tinggi dan carbomer yang "kaku" menciptakan lapisan film yang tidak elastis saat kering. Pada konsentrasi tinggi asam azelaic, dibutuhkan lebih banyak pengental → lapisan film semakin kaku → terjadi pilling.
Pengeringan terlalu cepat
Terlalu banyak air/alkohol, terlalu sedikit emolien → jaringan polimer "mengeras" sebelum bisa menyesuaikan diri dengan mikro-relief kulit. Terbentuklah "cangkang" tipis dan rapuh.
Muatan zat padat yang tinggi
Asam azelaic padat + polimer + gum + (pati, pigmen) → setelah air menguap, tersisa lapisan zat padat kering yang mudah pecah-pecah.
Kristal berukuran besar
Kristal yang tidak terbasahi dengan baik terasa seperti "pasir" dan berperilaku seperti mikro-partikel dalam lapisan film. Film menjadi lebih lemah secara mekanis dan pecah di sekitarnya.
Konsumen juga bisa memperburuk keadaan: bahkan formula krim yang bagus pun bisa menggumpal jika diaplikasikan dalam lapisan terlalu tebal, jika kulit digosok terlalu keras, jika dilapisi di bawah primer silikon/SPF, atau diaplikasikan pada kulit yang sangat kering dan kasar.
Cara mencegah pilling: 5 strategi
Mencegah pilling adalah soal mengelola mekanika lapisan film dan muatan zat padat, bukan sekadar memilih polimer.
Strategi 1: Netralisasi sebagian. Netralisasi sebagian (NaOH, AMP, TEA) + glikol → sebagian asam azelaic larut (menjadi garam), sisanya tetap sebagai suspensi terdispersi halus. Ini mengurangi "muatan bertekstur bubuk" pada lapisan film kering, memperbaiki tekstur, dan menjaga keseimbangan antara kelarutan dan penghantaran bahan aktif.
Strategi 2: Polimer lentur, bukan polimer kaku.
Pendekatan | Rekomendasi | Alasan |
|---|---|---|
Sistem akrilat (Aristoflex) | Basis jaringan | Efektif pada dosis rendah, lapisan film lembut dan elastis |
Pati termodifikasi | Co-thickener | Terasa "bertekstur bubuk", non-ionik, tahan terhadap elektrolit |
Kombinasi 2 polimer (dosis rendah) | Campuran polimer | Lebih baik daripada satu polimer dengan dosis tinggi |
Xanthan gum, carbomer | Gunakan dengan hati-hati | Lapisan film kaku → pilling pada persentase tinggi |
Penting: Aristoflex sensitif terhadap kadar elektrolit dan glikol yang tinggi — selalu uji kompatibilitasnya dengan sistem buffer/humektan yang Anda gunakan.

Strategi 3: Mengoptimalkan basis formula.
Lebih banyak emolien
Caprylic/capric triglyceride, coco-caprylate/caprate, C12-15 alkyl benzoate, silikon volatil yang ringan. Bahan-bahan ini melenturkan lapisan film dan memperlambat penguapan.
Humektan yang tepat
Glycerin, 1,3-propanediol, butylene glycol (2–5%). Memberikan kelicinan, memperlambat pengeringan. Propanediol juga sedikit melarutkan asam. Namun: kelebihan gliserin → kelengketan → pilling.
Jenis emulsi
Emulsi O/W dan gel-krim lebih baik daripada gel berbasis air murni. Fase minyak + emulsifier → lapisan film yang lentur dan empuk, bukan "cangkang" yang rapuh.
Strategi 4: Ukuran partikel dan dispersi. Gunakan asam azelaic yang telah dimikronisasi — partikel yang lebih kecil lebih mudah tersuspensi, dengan lebih sedikit "kekasaran" dan lebih sedikit titik pemicu keretakan.
Pra-pembasahan (pre-wetting) dalam campuran glikol (propanediol + butylene glycol) dengan surfaktan non-ionik (polysorbate, poloxamer)
Gunakan homogenizer / mixer rotor-stator untuk dispersi yang berkualitas baik
Tambahkan asam azelaic secara perlahan ke dalam basis yang sudah terbentuk sambil diaduk dengan baik
Tujuannya: suspensi krim yang homogen, bukan massa berkapur yang menggumpal
Strategi 5: Co-solvent dan keseimbangan. Tujuannya bukan menghasilkan larutan 10–20% yang benar-benar bening (ini jarang diperlukan), melainkan sebuah keseimbangan: sebagian asam azelaic terlarut (langsung tersedia), sisanya menjadi "cadangan" yang terdispersi halus. Total muatan zat padat dalam lapisan film yang mengering cukup rendah sehingga tidak retak atau menggumpal.

Asam azelaic memang bahan aktif yang benar-benar luar biasa: bekerja melawan akne, rosacea, hiperpigmentasi, dan inflamasi. Namun bahan ini juga menunjukkan betapa halus dan menuntutnya seni formulasi kosmetik. Jika Anda memahami mekanisme kerjanya dan kelarutan yang bergantung pada pH, secara sadar memilih polimer yang lentur, mengoptimalkan basis formula, dan mengontrol ukuran partikel — Anda dapat mengubah bahan aktif yang "rawan pilling" ini menjadi produk yang stabil, nyaman, dan tetap menempel di kulit serta bekerja dengan baik, bukan malah rontok di bawah jari Anda.
Baca juga: pH dalam kosmetik • Triethyl citrate

Oksana Walker
Ahli Kimia Kosmetik, pendiri Walker Formulation Academy
IFSCC • SCS • IAA • IAC



