Refined atau unrefined: apa sebenarnya yang Anda bayar
Dua etalase, minyak yang sama, pemasok yang sama. Yang satu tertulis refined; yang lain tertulis unrefined, cold pressed, virgin, fotonya lebih bagus, dan harganya dua sampai tiga kali lipat per kilogram. Anda sedang mencoba memutuskan apakah selisihnya perbedaan bahan yang nyata atau sebuah cerita, dan tidak ada yang mau memberi jawaban lurus, karena yang menjual versi mahal punya kepentingan dan yang menjual versi murah punya kepentingan lain.
Ada jawaban lurusnya, dan ia kuantitatif. Pemurnian membuang sejumlah tertentu dari hal-hal tertentu, dan berapa banyak yang dibuangnya sudah diukur. Apakah Anda perlu membayarnya sepenuhnya bergantung pada apakah formula Anda memakainya.
Tulisan ini tentang satu atau dua persen dari sebuah minyak yang sama sekali bukan trigliserida — fraksi tak tersabunkan (bagian minyak yang tidak berubah jadi sabun ketika disabunkan) — karena itulah yang diambil pemurnian dan itulah yang sebagian besar menjelaskan selisih harganya. Seberapa cepat sebuah minyak teroksidasi adalah pertanyaan lain, dan untuk iklim kita ia dibahas di kenapa minyak rosehip berbau krayon.
Apa arti kata di label itu — dan apa yang tidak diatur di Indonesia
Mulai dengan kejutan: definisi paling jelas untuk kata-kata di etalase itu ada di standar pangan, bukan standar kosmetik.
Codex CXS 210-1999 §2.2 mendefinisikannya:
Minyak virgin diperoleh, tanpa mengubah sifat minyaknya, dengan prosedur mekanis, misalnya pengepresan, dan penerapan panas saja. Minyak cold pressed diperoleh, tanpa mengubah minyaknya, dengan prosedur mekanis saja, misalnya pengepresan, tanpa penerapan panas.
Itu seluruhnya. Cold pressed berarti tidak ada panas yang diterapkan selama pengepresan. Ia tidak berarti minyaknya lebih segar, lebih baik disaring, lebih kaya akan apa pun, atau ditangani lebih hati-hati setelah dipres — dan ia didefinisikan untuk bahan pangan, dalam standar yang ruang lingkupnya minyak "yang disajikan dalam keadaan untuk konsumsi manusia".
Sekarang sisi Indonesianya, dan ini perlu dikatakan lugas. Tidak ada definisi hukum Indonesia untuk "alami", "organik" atau "cold pressed" pada kosmetik yang bisa kami temukan dan buka. Tidak ada peraturan BPOM yang memberi Anda ambang batas persen bahan alami, dan tidak ada lambang resmi yang menyatakannya.
Yang mengikat justru lebih umum dan karena itu lebih tajam. PerBPOM 3/2022 Pasal 3 ayat (2) menetapkan tujuh kriteria untuk setiap klaim pada penandaan maupun iklan, dan yang kelima berbunyi "dapat dibuktikan". Menulis "100 % alami" di kemasan bukan pelanggaran karena melanggar definisi hukum "alami" — tidak ada definisi seperti itu di Indonesia untuk dilanggar. Ia jadi masalah karena beban pembuktiannya ada pada Anda, dan Anda harus bisa menyebutkan terhadap apa kalimat itu dibuktikan.
Dan di sinilah perlu satu koreksi terhadap kesimpulan yang gampang diambil: tidak adanya definisi hukum bukan berarti tidak ada dasar terukur sama sekali. Ada terminologi teknis internasional, dan ia sudah lama dipakai industri: ISO 16128-1:2016, Guidelines on technical definitions and criteria for natural and organic cosmetic ingredients and products — Part 1: Definitions for ingredients. Standar itu mendefinisikan kategori bahan — alami, turunan alami, organik, turunan organik, dan lainnya — sehingga sebuah "indeks kealamian" bisa dihitung dengan cara yang sama oleh dua orang berbeda. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada adopsi SNI-nya, jadi ia tidak wajib di sini.
Tapi bacalah ruang lingkupnya sebelum Anda berharap terlalu banyak, karena standar itu menutup harapan itu sendiri. Dalam rumusan resminya (rekam standar di katalog EVS): "ISO 16128 does not address product communication (e.g. claims and labelling), human safety, environmental safety and socio-economic considerations… and regulatory requirements applicable for cosmetics."
Jadi posisinya persis: ISO 16128-1 memberi Anda cara menghitung, bukan izin untuk mengklaim. Ia tidak membuat "100 % alami" menjadi boleh, dan ia tidak menggantikan kriteria "dapat dibuktikan". Yang ia lakukan adalah mengubah kalimat kosong menjadi kalimat yang punya angka di belakangnya — dan sebuah angka yang bisa Anda pertahankan jauh lebih baik daripada kata sifat yang tidak bisa.
Di meja kerja: tulis ke dalam spesifikasi bahan baku Anda hal-hal yang memang terdefinisi dan terukur — spesies (genus dan spesies, karena Lampiran I PerBPOM 18/2024 mewajibkannya di label juga), keadaan pemurnian, angka tak tersabunkan dan metode yang menghasilkannya. Kalau Anda memang ingin bicara "alami", minta pemasok menyebutkan indeks kealamian bahannya beserta versi ISO 16128 yang dipakai menghitungnya — lalu ingat bahwa angka itu untuk berkas Anda, bukan untuk kemasan. "Cold pressed" adalah deskripsi proses; "alami" tanpa metode di belakangnya tetap kata tanpa titik akhir.
Bahan tak tersabunkan: angka yang didefinisikan oleh metodenya
Sabunkan minyak nabati dan hampir seluruhnya berubah jadi sabun. Yang tersisa, bisa diekstraksi dengan pelarut, adalah bahan tak tersabunkan: bahan yang memang tidak pernah berupa ester asam lemak, ditambah separuh tak tersabunkan yang lepas dari ester.
Definisinya operasional, bukan kimiawi, dan ini lebih penting daripada kedengarannya. Kedua standar Codex yang relevan menyebut tiga metode yang sama — ISO 3596:2000, ISO 18609:2000 atau AOCS Ca 6b-53. Prinsipnya sesuai namanya: refluks minyaknya dengan kalium hidroksida dalam etanol, ekstraksi dengan pelarut (dietil eter pada ISO 3596, heksana pada ISO 18609), cuci ekstraknya sampai bebas sabun dan alkali, uapkan pelarutnya, timbang residunya. Yang dilaporkan adalah massa residu itu, dalam g/kg atau persen.
Dua konsekuensi mengikuti, dan keduanya memakan uang orang.
Angkanya adalah total gravimetri, bukan komposisi. Dua minyak dengan persentase tak tersabunkan identik bisa berisi hal yang sama sekali berbeda.
Dua pelarut berbeda tidak dijamin sepakat pada sampel yang sama. Sertifikat yang melaporkan bahan tak tersabunkan tanpa menyebut metodenya sedang melaporkan setengah angka.
Dan angka Codex itu sendiri adalah plafon, bukan kandungan lazim. Pada Tabel 2 CXS 210-1999 baris tak tersabunkan adalah satu nilai per minyak yang dipakai memeriksa minyak mentah otentik. CXS 33-1981 menyatakannya eksplisit, dengan judul kolom "Maximum level".
| Minyak (mentah, kecuali disebut lain) | Batas bahan tak tersabunkan | Standar |
|---|---|---|
| Minyak inti sawit, kacang tanah, safflower tinggi oleat | 10 g/kg masing-masing | CXS 210-1999, Tabel 2 |
| Minyak sawit, minyak babassu | 12 g/kg masing-masing | CXS 210-1999, Tabel 2 |
| Kelapa, biji kapas, biji bunga matahari, kedelai, biji sesawi, safflower | 15 g/kg masing-masing | CXS 210-1999, Tabel 2 |
| Minyak zaitun virgin, refined dan campuran | 15 g/kg (maksimum) | CXS 33-1981 |
| Biji anggur, rapa, rapa rendah erusat, wijen | 20 g/kg masing-masing | CXS 210-1999, Tabel 2 |
| Minyak jagung | 28 g/kg | CXS 210-1999, Tabel 2 |
| Minyak ampas zaitun | 30 g/kg (maksimum) | CXS 33-1981 |
| Minyak dedak padi | ≤ 65 g/kg | CXS 210-1999, Tabel 2 |
Sebarannya itulah pokoknya. Minyak dedak padi diizinkan lebih dari enam kali bahan tak tersabunkan minyak kacang tanah — dan minyak dedak padi adalah minyak yang dijual justru karena fraksi itu. Ia juga, kebetulan yang menyenangkan, hasil samping dari tanaman pangan kita sendiri: dedak padi ada di setiap penggilingan beras di Jawa, dan minyaknya tidak perlu menyeberangi samudra untuk sampai ke formula Anda.
Di meja kerja: tanyakan pemasok metode ISO mana yang menghasilkan angka tak tersabunkan di sertifikat, dan catat metodenya di baris yang sama dalam catatan Anda. Kalau mereka tidak bisa menyebutkannya, angka itu tidak sebanding dengan angka siapa pun dan tidak boleh dipakai membenarkan selisih harga.
Tokoferol: antioksidan milik minyaknya sendiri, dan sidik jarinya
Tokoferol adalah antioksidan alami yang menyumbang pada stabilitas oksidatif sebuah minyak, berdampingan dengan komposisi asam lemaknya, riwayat pengolahannya dan penyimpanannya. Ada empat homolog utama — alfa, beta, gama dan delta — yang berbeda dalam jumlah dan posisi gugus metil pada cincin kromanol. Tabel 4 Lampiran CXS 210-1999 mentabulasikannya untuk minyak mentah dari sampel otentik; berbeda dari plafon Tabel 2, ini rentang teramati yang diberikan untuk identifikasi.
| Minyak mentah | Alfa-tokoferol (mg/kg) | Gama-tokoferol (mg/kg) | Total tokoferol dan tokotrienol (mg/kg) |
|---|---|---|---|
| Biji bunga matahari | 403–935 | ND–34 | 440–1520 |
| Kedelai | 9–352 | 89–2307 | 600–3370 |
| Jagung | 23–573 | 268–2468 | 330–3720 |
| Wijen | ND–3,3 | 521–983 | 330–1010 |
| Rapa (rendah erusat) | 100–386 | 189–753 | 430–2680 |
| Dedak padi | 49–583 | ND–212 | 191–2349 |
| Sawit | 4–193 | ND–526 | 150–1500 |
| Biji anggur | 16–38 | ND–73 | 240–410 |
| Kelapa | ND–17 | ND–14 | ND–50 |
ND berarti tidak terdeteksi pada kondisi yang diwakili tabel itu. Baca menyamping alih-alih menurun dan polanya melompat keluar: profil isomernya sama khasnya bagi sebuah minyak seperti asam lemaknya. Bunga matahari adalah minyak alfa-tokoferol. Kedelai dan jagung adalah minyak gama-tokoferol. Wijen hampir tidak membawa alfa sama sekali.
Tiga baris yang ditebalkan adalah rak lokal kita, dan ketiganya menceritakan hal berbeda.
Sawit dan dedak padi membawa sebagian besar vitamin E-nya sebagai tokotrienol, bukan tokoferol. Tabel yang sama memberi sawit 4–336 mg/kg alfa-tokotrienol dan 14–710 mg/kg gama-tokotrienol, dan dedak padi sampai 627 dan 790 mg/kg untuk kedua yang sama. Kalau Anda membeli minyak sawit mentah atau minyak dedak padi karena "kandungan vitamin E"-nya, yang Anda beli sebagian besar adalah golongan yang berbeda dari yang ada di kapsul vitamin E.
Kelapa punya total terendah di seluruh tabel, ND–50 mg/kg. Itu satu alasan tidak ada yang membeli minyak kelapa karena antioksidannya — dan alasan bahwa minyak kelapa, yang paling murah dan paling mudah didapat dari semua bahan di rak Indonesia, tidak membawa perlindungan untuk bahan lain di dalam formula Anda. Ia tidak perlu banyak perlindungan untuk dirinya sendiri karena rantainya jenuh; ia juga tidak memberi apa pun kepada tetangganya.
Rentangnya lebar karena kandungannya agronomis, bukan tetap. Maranz dan Wiesman (2004) mengukur tokoferol dengan HPLC pada 102 sampel mentega shea dari 11 negara Afrika dan menemukan total tokoferol dari 29 sampai 805 mikrogram per gram, rata-rata 220, dengan alfa-tokoferol sebagai bentuk utama pada rata-rata 64 persen. Iklim menjelaskan sebagian besar sebarannya: N'Djamena di Chad yang panas dan kering rata-rata 414 µg/g alfa-tokoferol, dataran tinggi Uganda utara yang sejuk 29 µg/g. Selisih empat belas kali lipat pada komoditas yang sama, dan tidak ada angka asam lemak di sertifikat mana pun yang akan menunjukkannya.
Yang tidak dilakukan kandungan tokoferol adalah membiarkan Anda meramalkan umur simpan. Ia satu masukan di antara beberapa — profil asam lemak, logam prooksidan, peroksida yang sudah ada, kemasan, ruang kepala, suhu penyimpanan. Angka tokoferol alami yang tinggi adalah alasan mengharapkan ketangguhan tertentu, bukan pengganti uji stabilitas. Dan kalau Anda ingin pengingat seberapa terbatas bantuan tokoferol, lihat angka dari Indonesia: Darmawan dan kolega (2023) menemukan penambahan tokoferol 200 mg/kg ke mentega tengkawang hanya menggeser Q10 dari 2,815 ke 2,725 — perbaikan, tapi kecil, dan lebih kecil daripada yang diberikan asam askorbat dalam sistem yang sama (1,993). Satu catatan pembacaan yang wajib ikut: Q10 itu dihitung dari uji Rancimat pada 100–130 °C dan diekstrapolasi penulisnya ke 22 °C, bukan diukur langsung pada suhu penyimpanan.
Di meja kerja: kalau Anda membeli minyak unrefined khusus karena vitamin E-nya sendiri, minta angka tokoferol pada lot itu, bukan rentang spesiesnya. Kalau pemasok tidak mengukurnya, Anda sedang membayar sebuah rata-rata.
Fitosterol: sebagian besar fraksinya, secara massa
Untuk kebanyakan minyak biji, komponen tunggal terbesar dari bahan tak tersabunkan bukan tokoferol melainkan sterol. Tabel 3 Lampiran CXS 210-1999 memberi total sterol untuk minyak mentah otentik dalam mg/kg:
| Minyak | Total sterol (mg/kg) |
|---|---|
| Dedak padi | 10.500–31.000 |
| Jagung | 7.000–22.100 |
| Wijen | 4.500–19.000 |
| Rapa (rendah erusat) | 4.500–11.300 |
| Biji bunga matahari | 2.400–5.000 |
| Kedelai | 1.800–4.500 |
| Kelapa | 400–1.200 |
| Sawit | 300–700 |
Sekali lagi dedak padi ada di puncaknya, dan sekali lagi sawit dan kelapa ada di dasarnya. Kalau alasan Anda membeli minyak unrefined adalah fraksi sterolnya, rak lokal memberi Anda satu jawaban yang sangat baik dan dua yang tidak.
Codex melaporkan total sterol 10,5–31 g/kg untuk minyak dedak padi mentah otentik berdampingan dengan plafon tak tersabunkan 65 g/kg. Itu angka-angka independen dari tabel independen dan tidak boleh dibagi satu sama lain untuk menghasilkan "proporsi sterol yang lazim".
Standar yang sama juga mentabulasikan desmetilsterol utama sebagai persentase total sterol, dan proporsinya diagnostik. Beta-sitosterol mendominasi hampir di mana-mana — 76,0–87,1 persen pada biji kapas, 57,7–61,9 pada wijen, 54,8–66,6 pada jagung, 45,1–57,9 pada rapa rendah erusat. Kampesterol dan stigmasterol menyusul dalam proporsi yang mengidentifikasi minyaknya: rapa luar biasa untuk kampesterol pada 24,7–38,6 persen, kedelai untuk stigmasterol pada 14,9–19,1 persen.
Zaitun diawasi lebih ketat lagi. CXS 33-1981 menetapkan kampesterol tidak di atas 4,0 persen dari total sterol dan kandungan total sterol minimum 1.000 mg/kg untuk minyak zaitun virgin, minyak zaitun refined dan minyak zaitun. Itu kriteria keaslian — profil sterol adalah cara minyak zaitun oplosan tertangkap — tapi ia juga memberi tahu formulator terbuat dari apa fraksi minyak zaitun. (Edisi standar ini berubah; periksa teks berlakunya sebelum mengutip sebuah batas di dokumen Anda sendiri.)
Di sisi kulit, bukti yang bisa dipakai formulator kosmetik dengan jujur lebih sempit daripada pemasaran seputar fitosterol menyarankan. Puglia dan Bonina di Journal of Cosmetic Science (2008) mengoleskan formulasi berisi fitosterol kedelai kepada sukarelawan manusia yang stratum korneum-nya telah dirusak dengan tape stripping, dan mengikuti pemulihan sawar secara non-invasif lewat spektrofotometri reflektansi atas eritema terinduksi metil-nikotinat. Tiga hari setelah stripping, lokasi yang diberi formulasi fitosterol menunjukkan pemulihan fungsi sawar yang cukup berarti dibandingkan lokasi yang hanya diberi pembawanya. Itu satu studi in vivo kecil pada model sawar di kulit utuh, dan ia tidak mengatakan apa pun tentang produk jadi mana pun. Ia juga tidak memberi izin untuk klaim mengobati atau memengaruhi suatu penyakit atau kondisi — dan di Indonesia, PerBPOM 3/2022 Pasal 3 ayat (2) huruf g menutup kalimat semacam itu secara langsung: klaim tidak boleh menyatakan seolah-olah sebagai obat atau bertujuan mencegah suatu penyakit. Angka fitosterol di sertifikat bukan klaim tentang apa pun, dan ia tidak boleh berubah jadi klaim di label.
Di meja kerja: sterol adalah massa dari fraksi itu, yang menjelaskan kenapa angka tak tersabunkan bergerak ketika sterolnya bergerak. Mereka bukan alasan sebagian besar formula menetapkan minyak unrefined; kalau itu alasan Anda, sebut studi yang Anda andalkan dan simpan di berkas Anda.
Skualen dan skualan: satu huruf, dua bahan
Skualen adalah hidrokarbon triterpena, C₃₀H₅₀, dengan enam ikatan rangkap karbon-karbon dan tanpa oksigen sama sekali. Ia zat antara biosintesis dalam jalur menuju sterol dan triterpena, itulah sebabnya ia muncul di fraksi tak tersabunkan minyak dari tanaman yang membuat banyak keduanya. Skualan adalah kerangka yang sama dengan setiap ikatan rangkap sudah dihidrogenasi: C₃₀H₆₂, jenuh penuh, tanpa tempat yang membuat skualen teroksidasi. Satu huruf, dan profil stabilitas yang sama sekali berbeda.
Zaitun adalah sumber nabati klasiknya, dan kuantifikasi terbaik yang tersedia luar biasa bersih. Hernández dan kolega di Journal of Agricultural and Food Chemistry (2023) mengukur skualen dengan kromatografi gas pada minyak zaitun virgin dari koleksi inti 36 kultivar — semuanya ditanam di kebun yang sama dalam kondisi yang sama, dipanen pada indeks kematangan yang sama yaitu 2,5, dan diekstraksi dalam kondisi identik, sehingga genotipe nyaris satu-satunya variabel yang tersisa. Rata-ratanya 4,52 mg/g minyak dan rentangnya 1,27 sampai 11,83 mg/g: 0,13 sampai 1,18 persen dari minyaknya, sebaran sembilan kali lipat. Mereka juga mengamati penurunan skualen yang berkelanjutan selama pematangan pada minyak dari 'Picual' dan 'Arbequina'.
Tiga bacaan mengikuti untuk formulator. Minyak zaitun virgin membawa kuantitas skualen yang nyata tapi bervariasi, pada tingkat yang lebih dekat ke beberapa persepuluh persen daripada ke angka yang kadang dikutip untuknya. Skualen itu bukan penstabil — ia komponen lain dengan enam ikatan rangkap di dalamnya. Dan skualan kosmetik, entah dari zaitun atau dari fermentasi tebu, adalah turunan terhidrogenasinya, dipilih justru karena hidrokarbon jenuh tidak melakukan apa yang dilakukan skualen di atas rak.
Di iklim kita perbedaan itu bertambah berat. Komponen dengan enam ikatan rangkap dalam minyak yang disimpan pada rata-rata 26,7 °C bukan aset; ia kewajiban yang Anda bayar mahal.
Di meja kerja: kalau Anda membeli minyak zaitun virgin untuk slip, Anda sedang membeli sepersekian persen dari komponen yang bervariasi — dan kalau Anda ingin slip itu secara andal, Anda menginginkan skualan sebagai bahan tersendiri. Menukar satu nama dengan nama lain karena keduanya mirip adalah salah satu kesalahan paling mahal dengan bahan-bahan ini.
Alkohol triterpena, dan kenapa shea adalah pengecualian
Mentega shea adalah lemak di mana fraksi tak tersabunkan berhenti menjadi pembulatan. Di Vincenzo dan kolega (2005) menentukan komposisi triasilgliserol, asam lemak dan triterpena poliklik pada 150 sampel shea dari Mali, Burkina Faso, Nigeria dan Uganda, dan menemukan rata-rata negara untuk triterpena poliklik asetil dan sinamil berkisar dari 3,69 sampai 12,57 persen, tertinggi pada provenansi Nigeria, dengan variabilitas tinggi pada ketiga kelas senyawa. Alkohol triterpena yang terlibat adalah alfa- dan beta-amirin, lupeol dan butirospermol, sebagian besar teresterifikasi dengan asam asetat dan sinamat.
Hasil itu mengidentifikasi shea sebagai luar biasa secara komposisi. Variasi pada fraksi ini mungkin saja membantu menjelaskan kenapa dua lot dengan angka stearat dan oleat mirip mengeras dan terasa berbeda — tapi studi yang dikutip mengukur komposisi, bukan sifat-sifat itu, dan perbedaannya layak dipertahankan. Apa artinya untuk mendosis shea terhadap kakao, mangga dan tengkawang dibahas di mentega mana yang tidak meleleh.
Alpukat adalah minyak lain dengan fraksi yang besar, dan ia membuat pokok yang berbeda. Santana dan kolega (Food Chemistry, 2019) mengepres daging alpukat Hass dengan expeller pada berbagai kondisi pengeringan dan pengupasan, dan melaporkan bahan tak tersabunkan 2,48–2,99 g/100 g pada minyak dari daging tak dikupas yang dikeringkan dengan gelombang mikro, dengan alfa-tokoferol 11,6–21,0 mg/100 g dan periode induksi 54,2–83,6 jam. Kondisi pengepresan, bukan hanya buahnya, yang menentukan apa yang berakhir di minyaknya.
Itu pelajaran yang langsung berlaku untuk pengepres kecil di sini. Minyak dedak padi, minyak kelapa dara, minyak kemiri dari pengepres lokal — angka tak tersabunkannya bukan sifat tanamannya, ia sifat dari apa yang dilakukan pengepres itu pada hari itu.
Di meja kerja: ketika formula Anda bergantung pada sesuatu di dalam fraksi ini — shea yang triterpenanya memberi badan, alpukat unrefined yang dibawa masuk karena tokoferolnya sendiri, dedak padi karena sterolnya — spesifikasikan bahannya pada tingkat kerincian itu dan periksa ulang ketika lot atau asalnya berganti. Profil asam lemaknya tidak akan memberi tahu bahwa ia sudah bergeser.
Apa yang benar-benar dibuang pemurnian — dengan angka
Pemurnian dirancang untuk membuang asam lemak bebas, fosfatida, warna, bau dan kontaminan. Fraksi tak tersabunkan bukan targetnya, tapi sebagian besar darinya ikut pergi bersama mereka. Tanda paling jelas untuk ini bersifat komersial: distilat deodoriser yang ditarik pada langkah terakhir pemurnian minyak nabati diperdagangkan sendiri sebagai sumber tokoferol dan fitosterol. Apa yang dijual kilang sebagai hasil samping adalah apa yang meninggalkan minyak Anda.
Kuantifikasi paling jelas adalah Rhazi, Depeint dan Ayerdi Gotor di Molecules (2022), yang mengikuti komponen minor minyak bunga matahari lewat enam langkah proses pemurnian kimia-dan-fisika industri. Sepanjang seluruh rangkaiannya:
| Komponen | Kehilangan sepanjang pemurnian |
|---|---|
| Karotenoid | 98,6 % |
| Skualen | 45,0 % |
| Fitosterol | 19,5 % |
| Tokoferol | 8,5 % |
Mereka juga mengamati bahwa penurunan terbesar jatuh pada senyawa yang paling memengaruhi penampilan visual minyaknya — lilin, karotenoid, klorofil — sementara penurunannya terbatas untuk senyawa yang tidak berdampak pada mutu organoleptik. Pemurnian bersifat selektif, dan selektif memihak tokoferol: antioksidannya bertahan lebih baik daripada pigmen atau skualen.
Lebih baik bukan berarti tak tersentuh, dan besarnya efek bergantung pada minyak dan prosesnya. Asbbane dan kolega di Scientific Reports (2024) membandingkan minyak argan yang telah dipucatkan dan dideodorisasi — pemurnian fisik, eksplisit dalam konteks menyiapkan bahan kosmetik — terhadap minyak dari batch awal yang sama, selama dua belas minggu penyimpanan dipercepat pada 60 °C. Pemurnian fisik memperbaiki mutu awal minyaknya, membuang asam lemak bebas (sampai 30 persen) berikut produk oksidasi primer dan sekunder — dan menghasilkan apa yang penulisnya gambarkan sebagai penurunan dramatis stabilitas oksidatif, dengan kehilangan tokoferol sampai 94 persen setelah dua belas minggu pada kondisi itu.
Kedua studi tidak bertentangan; mereka mengukur hal berbeda. Yang satu kehilangan seketika pada pengolahan. Yang lain kehilangan perlindungan sepanjang penyimpanan berikutnya. Bersama-sama mereka mengatakan: minyak refined mulai lebih bersih dan menua lebih buruk.
Dan di sinilah iklim mengubah bobot keputusannya, meskipun ia tidak mengubah datanya. Ditandai sebagai penalaran, bukan temuan: separuh "menua lebih buruk" dari pertukaran itu adalah separuh yang dipercepat suhu. Satu-satunya kajian kinetika lokal yang kami temukan — Q10 = 2,815 pada mentega tengkawang — menaruh laju oksidasi hampir tiga kali lipat untuk setiap kenaikan sepuluh derajat, pada lemak jenuh.
Tiga hal membatasi pemakaian angka itu di sini, dan ketiganya harus disebut. Ia tidak diukur pada minyak argan atau bunga matahari. Ia diukur pada lemak yang jauh lebih jenuh daripada keduanya. Dan ia sendiri bukan pengukuran pada suhu penyimpanan: nilainya dihitung dari indeks stabilitas oksidasi pada 100, 110, 120 dan 130 °C lalu diekstrapolasi oleh penulisnya ke 22 °C. Jadi yang berpindah ke tulisan ini bukan besarnya, melainkan arahnya — dan arah saja sudah cukup untuk keputusan pembelian. Di gudang yang rata-ratanya 27 °C, keunggulan "mulai lebih bersih" dari minyak refined terbayar lebih cepat daripada di gudang yang rata-ratanya 15 °C.
Codex mencatat konsekuensinya dengan cara yang paling lugas. CXS 33-1981 §4.1 tidak mengizinkan bahan tambahan sama sekali pada minyak zaitun virgin; §4.2 mengizinkan alfa-tokoferol ditambahkan ke minyak zaitun refined, minyak zaitun dan grade ampas "untuk memulihkan tokoferol alami yang hilang dalam proses pemurnian", dengan konsentrasi alfa-tokoferol pada produk akhir tidak melebihi 200 mg/kg. Standar pangan yang harus mengizinkan antioksidannya dikembalikan sedang memberi tahu Anda dengan tepat apa yang dibuang pemurnian.
Di meja kerja: refined adalah pembelian yang tepat ketika fraksinya tidak mengerjakan apa pun di formula Anda — produk bilas, sabun, minyak basis dalam formula yang membawa antioksidannya sendiri, atau apa pun yang warna dan baunya jadi gangguan. Unrefined adalah pembelian yang tepat ketika komponen tertentu dari fraksi itu adalah alasan minyaknya ada di formula. "Unrefined karena lebih bagus" bukan spesifikasi dan tidak akan bertahan di tinjauan biaya.
Halal: pertanyaannya bukan pada trigliseridanya
Pada minyak nabati murni, trigliseridanya sendiri jarang jadi masalah halal. Yang jadi masalah adalah dua hal di sekitarnya, dan pemurnian menyentuh keduanya.
Pertama, tokoferol yang dikembalikan. Lihat lagi §4.2 CXS 33-1981 di atas. Standar itu mengizinkan alfa-tokoferol ditambahkan ke minyak refined untuk memulihkan apa yang hilang. Tokoferol yang ditambahkan adalah bahan tersendiri, dengan asal-usulnya sendiri dan pembawanya sendiri, dan ia tidak muncul sebagai baris terpisah di sertifikat analisis minyaknya — ia muncul sebagai angka tokoferol yang "cukup bagus". Kalau Anda membeli minyak refined dan berencana menyusun berkas halal untuk produk jadi Anda, tanyakan secara eksplisit apakah tokoferol ditambahkan, dan kalau ya, dari mana.
Kedua, bahan penolong proses. Pemurnian memakai bahan penolong — agen pemucat, katalis, media penyaring — yang tidak berakhir di produk tapi menyentuhnya. Kami mencari sumber Indonesia yang bisa dibuka dan dipertanggungjawabkan tentang bahan penolong pemurnian minyak mana yang merupakan titik kritis halal, dan kami tidak menemukan satu pun yang memenuhi standar kami: materi yang beredar tentang topik ini sebagian besar adalah salinan presentasi tanpa penulis dan tanpa tanggal. Jadi kami tidak akan menyebut bahan tertentu. Yang bisa kami katakan dengan dasar ada dua, dan keduanya menunjuk ke arah yang sama.
Pertama, batas kewajibannya. BPJPH menjelaskan bahwa KMA Nomor 1360 Tahun 2021 mengatur bahan yang dikecualikan dari kewajiban bersertifikat halal, dan kategori pertamanya dirumuskan begini: bahan dari tumbuhan "tanpa proses pengolahan atau diolah secara fisik dan tanpa adanya penambahan bahan penolong, bahan tambahan, atau bahan lain". Baca ulang tiga kata terakhir sambil memikirkan kilang. Kami tidak akan memvonis lot mana pun — yang menentukan adalah lampiran KMA itu dan jawaban pemasok — tapi rumusannya sendiri menjelaskan kenapa minyak pres dan minyak kilang tidak berdiri di tempat yang sama dalam antrean dokumen.
Kedua, sikap yang dianjurkan untuk bahan yang tidak masuk pengecualian. Herdiana dan kolega di Heliyon (2024) — tinjauan ilmiah, bukan kutipan peraturan — menganjurkan mendokumentasikan status halal setiap bahan dari pemasoknya, dan mencatat bahwa produksi halal harus dipisahkan secara fisik dari produksi non-halal dengan kontaminasi silang dicegah. Kilang adalah produksi.
Konsekuensi praktisnya sederhana dan tidak nyaman: minyak refined membawa lebih banyak pihak di rantainya daripada minyak cold pressed. Cold pressed: petani, pengepres, Anda. Refined: petani, pengepres, kilang, dan siapa pun yang memasok bahan penolong ke kilang itu. Setiap pihak tambahan adalah satu dokumen tambahan yang harus ada sebelum 18 Oktober 2026, tanggal mulai berlakunya kewajiban — kosmetik adalah satu dari tujuh kategori produk yang wajib bersertifikat halal berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2014 dan PP Nomor 42 Tahun 2024.
Ini membalik satu intuisi yang umum. Banyak orang menganggap minyak unrefined "lebih aman" secara halal karena terasa lebih dekat ke tanaman. Itu kebetulan benar untuk alasan yang salah: bukan karena lebih alami, melainkan karena rantainya lebih pendek dan karena itu lebih mudah didokumentasikan. Minyak refined dari pemasok bersertifikat halal sepenuhnya baik-baik saja. Minyak refined dari pemasok yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang kilangnya tidak.
Di meja kerja: ketika Anda membandingkan dua etalase, refined dan unrefined, tambahkan kolom ketiga ke perbandingan harga Anda: berapa banyak dokumen yang harus saya kumpulkan untuk masing-masing. Untuk merek kecil yang menuju sertifikasi, kolom itu kadang lebih menentukan daripada selisih rupiah per kilogramnya.
Kalau produksinya lewat maklon, pilihannya mungkin bukan pilihan Anda
Satu catatan praktis yang tidak ada di pembahasan mana pun. Kalau Anda menitipkan produksi, pabrik maklon punya pemasok tetap dan biasanya punya satu grade dari tiap minyak dalam stoknya — hampir selalu yang refined, karena warna dan bau yang konsisten lebih mudah dikelola di produksi skala besar.
Artinya: keputusan "unrefined karena fraksi tak tersabunkannya" harus masuk ke brief tertulis Anda dengan angka dan alasan, bukan sebagai preferensi. Dan kalau pabriknya setuju, mintalah dua hal ikut masuk ke perjanjian: spesifikasi bahan tak tersabunkan beserta metode ISO yang dipakai mengukurnya, dan kewajiban memberi tahu bila pemasok minyaknya berganti. Tanpa yang kedua, produk Anda bisa berganti bahan baku antara batch pertama dan batch kedua tanpa satu pun kata berubah di formulanya.
Di meja kerja: tanyakan sejak percakapan pertama, sebelum harga: grade mana yang ada di stok tetap mereka, dan berapa biaya tambahan untuk grade lain. Jawabannya sering menyelesaikan perdebatan refined-versus-unrefined sebelum Anda sempat memulainya.
Apa yang dilakukan dengan angka itu di meja kerja
| Pertanyaan | Yang bisa didukung data tak tersabunkan | Yang tidak bisa |
|---|---|---|
| Apakah minyak ini sesuai dengan yang tertulis di label? | Angka di luar batas Codex untuk minyak itu, atau profil sterol di luar rentang tabel, adalah alasan mempertanyakan lot itu | Angka yang patuh tidak dengan sendirinya menetapkan keaslian, asal atau grade |
| Refined atau unrefined? | Pemurnian terukur mengurangi karotenoid, skualen dan sterol, dan pada tingkat lebih kecil tokoferol — 98,6 / 45,0 / 19,5 / 8,5 persen sepanjang enam langkah pada bunga matahari | Persentase itu tidak berpindah ke minyak lain atau kilang lain |
| Kenapa dua lot berperilaku berbeda? | Provenansi dan pengolahan menggeser fraksinya jauh — 29 sampai 805 µg/g total tokoferol pada shea, 1,27 sampai 11,83 mg/g skualen lintas kultivar zaitun | Ia tidak meramalkan arah atau besarnya perbedaan pada formulasi tertentu |
| Seberapa stabil produknya nanti? | Tidak ada, dengan sendirinya; ia satu masukan ke program stabilitas | Ia bukan angka umur simpan, dan tidak ada kandungan antioksidan alami yang menghapus kebutuhan menguji produk jadi |
| Boleh saya tulis "alami" di kemasan? | Tidak ada definisi hukum Indonesia untuk kata itu pada kosmetik; yang ada adalah terminologi teknis internasional ISO 16128-1:2016, yang memberi cara menghitung indeks kealamian | ISO 16128 secara eksplisit tidak mengatur komunikasi produk, klaim dan penandaan — jadi ia tidak memberi izin apa pun; kriteria "dapat dibuktikan" di PerBPOM 3/2022 tetap berlaku penuh |
| Apakah unrefined lebih aman secara halal? | Rantainya lebih pendek, jadi dokumennya lebih sedikit — itu keunggulan administratif yang nyata | Bukan keunggulan kehalalan dengan sendirinya; minyak refined dari pemasok bersertifikat sama sahnya |
Dua kebiasaan membayar dirinya sendiri. Tanyakan metode ISO mana yang menghasilkan angka tak tersabunkan, karena angkanya didefinisikan oleh metodenya. Dan ketika sebuah formula bergantung pada komponen tertentu dari fraksi itu, beli minyaknya berdasarkan komponen itu dan periksa ulang ketika lot atau asalnya berganti — karena profil asam lemaknya tidak akan memberi tahu bahwa ia sudah bergeser, dan harganya juga tidak.
Komposisi memberi tahu pilihannya. Ia tidak menjanjikan apa pun tentang produk jadi, yang harus divalidasi pada setiap formulasi dan setiap batch produksi.
Sumber
- Codex Alimentarius. Standard for Named Vegetable Oils, CXS 210-1999 (diadopsi 1999, diamandemen 2015): §2.2 definisi; §5 metode analisis (ISO 3596:2000 / ISO 18609:2000 / AOCS Ca 6b-53); Tabel 2 bahan tak tersabunkan; Lampiran Tabel 3 desmetilsterol dan total sterol; Lampiran Tabel 4 tokoferol dan tokotrienol. FAO PDF — dibuka 23 September 2026.
- Codex Alimentarius. Standard for Olive Oils and Olive Pomace Oils, CXS 33-1981 (diamandemen 2015): komposisi sterol, minimum total sterol, batas maksimum bahan tak tersabunkan, §4.1 dan §4.2 bahan tambahan pangan. FAO PDF — dibuka 23 September 2026.
- ISO 3596:2000, Animal and vegetable fats and oils — Determination of unsaponifiable matter — Method using diethyl ether extraction, dan ISO 18609:2000, …Method using hexane extraction. Dikutip sebagai metode rujukan dalam CXS 210-1999 dan CXS 33-1981.
- ISO 16128-1:2016, Guidelines on technical definitions and criteria for natural and organic cosmetic ingredients and products — Part 1: Definitions for ingredients. Rekam standar dan rumusan ruang lingkupnya di katalog Pusat Standardisasi Estonia (EVS): evs.ee — dibuka 23 September 2026. (Halaman katalog iso.org dan ISO OBP menolak pengambilan otomatis dengan HTTP 403.) Tidak wajib di Indonesia; kami tidak menemukan adopsi SNI-nya.
- BPJPH. Penting Diketahui, Ini Bahan yang Dikecualikan dari Kewajiban Bersertifikat Halal (KMA Nomor 1360 Tahun 2021; tiga kategori bahan yang dikecualikan). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.
- Maranz S., Wiesman Z. Influence of climate on the tocopherol content of shea butter. Journal of Agricultural and Food Chemistry 52(10), 2934–2937, 2004. PubMed 15137838
- Di Vincenzo D. et al. Regional variation in shea butter lipid and triterpene composition in four African countries. Journal of Agricultural and Food Chemistry 53(19), 7473–7479, 2005. PubMed 16159175
- Hernández M. L. et al. Functional characterization of four olive squalene synthases with respect to the squalene content of the virgin olive oil. Journal of Agricultural and Food Chemistry 71(42), 15701–15712, 2023. PubMed 37815987
- Puglia C., Bonina F. In vivo spectrophotometric evaluation of skin barrier recovery after topical application of soybean phytosterols. Journal of Cosmetic Science 59(3), 217–224, 2008. PubMed 18528589
- Santana I. et al. Hass avocado (Persea americana Mill.) oil enriched in phenolic compounds and tocopherols by expeller-pressing the unpeeled microwave dried fruit. Food Chemistry 286, 354–361, 2019. PubMed 30827618
- Rhazi L., Depeint F., Ayerdi Gotor A. Loss in the intrinsic quality and the antioxidant activity of sunflower (Helianthus annuus L.) oil during an industrial refining process. Molecules 27(3), 916, 2022. PubMed 35164180
- Asbbane A. et al. Effects of physical refining process on quality and stability of argan oil (Argania spinosa (L.) Skeels). Scientific Reports 14(1), 23045, 2024. PubMed 39367085
- Kochhar S. P., Henry C. J. Oxidative stability and shelf-life evaluation of selected culinary oils. International Journal of Food Sciences and Nutrition 60 (Suppl 7), 289–296, 2009. PubMed 19634067
- Darmawan M. A. et al. Shelf life of indigenous tengkawang butter: storage kinetic and effect of antioxidant to oxidation stability index. Heliyon 9(5), e15643, 2023. PMC10160515 · PubMed 37153381 — §2.5 Rancimat (ISO 6886) pada 100–130 °C; §2.6 dan Tabel 3: Q10 dihitung dari regresi OSI terhadap suhu Rancimat, diekstrapolasi ke 22 °C.
- Herdiana Y. et al. Towards halal pharmaceutical: exploring alternatives to animal-based ingredients. Heliyon 10(1), e23624, 2024. PMC10770512 · PubMed 38187251
- BMKG. Anomali Suhu Udara Rata-Rata Tahun 2025 — suhu udara rata-rata Indonesia periode normal 1991–2020. bmkg.go.id — dibuka 23 September 2026.
- Peraturan Badan POM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika, Pasal 3 ayat (2). peraturan.bpk.go.id — dibuka 23 September 2026.
- Peraturan Badan POM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik, Lampiran I (komposisi dengan nama INCI serta genus dan spesies). peraturan.bpk.go.id — dibuka 23 September 2026.
- BPJPH. Tak Hanya Makanan-Minuman, Ini Jenis Produk yang Wajib Bersertifikat Halal Mulai 18 Oktober 2026 (dasar: UU Nomor 33 Tahun 2014 dan PP Nomor 42 Tahun 2024; kosmetik kategori 3). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.
- BPJPH. BPJPH: Produk Kosmetik Wajib Bersertifikat Halal pada Oktober 2026 (perumusan lebih awal: "setelah 17 Oktober 2026"). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.



