Shea, kakao, atau mangga: mentega mana yang tidak meleleh

Shea, kakao, atau mangga: mentega mana yang tidak meleleh

👩‍🔬 Oksana Walker📅 23 September 2026⏱️ 25 min read

Shea, kakao, atau mangga: mentega mana yang tidak meleleh

Anda membuat body butter dan hasilnya persis seperti yang Anda mau: padat di dalam wadah, lembut di bawah ibu jari, menyebar tanpa menarik kulit. Dua minggu kemudian pembeli pertama mengirim foto lewat WhatsApp: genangan dengan selaput di atasnya. Ia meninggalkan wadahnya di dashboard mobil selama dua jam.

Tidak ada yang salah dengan pembuatannya. Anda membuat sebuah lemak, dan lemak punya rentang leleh, dan mobil itu lebih panas daripada meja kerja Anda.

Inilah bagian dari formulasi mentega yang jarang ditulis siapa pun, karena resepnya ditulis di dapur yang kebetulan bersuhu nyaman pada hari itu — dan sebagian besar resep yang beredar dalam bahasa Inggris ditulis di dapur di iklim sedang. Yang benar-benar menentukan apakah balm Anda berperilaku adalah proporsi dua asam lemak jenuh di dalam lemak yang Anda pilih, dan suhu ruangan tempat ia berakhir. Di Indonesia suhu itu punya angka: BMKG melaporkan suhu maksimum permukaan berkisar 29–34 °C, minimum 20–24 °C, kelembapan 73–89 %, dengan rata-rata nasional 26,7 °C untuk periode normal 1991–2020.

Satu hal yang sengaja tidak dibahas di sini. Kalau masalah Anda adalah berpasir — body butter yang jadi kasar seperti gula di dalam wadah — itu masalah kristalisasi dengan mekanisme dan solusinya sendiri. Kekerasan dan kekasaran adalah dua kegagalan berbeda dengan sebab berbeda, dan memperlakukan yang satu sebagai yang lain adalah alasan begitu banyak "solusi" tidak bekerja.

Kenapa rantai jenuh berdiri tegak

Asam lemak jenuh tidak punya ikatan rangkap karbon-karbon dan karena itu, berbeda dari rantai tak jenuh cis, tidak punya tekukan tetap. Rantai lurus menumpuk rapat satu sama lain dan mengikat lebih kuat; trigliserida yang mereka bangun meleleh lebih tinggi. Tiga hal lain ikut penting di samping panjang rantai dan kejenuhan — simetri trigliseridanya, posisi mana pada gliserol yang ditempati rantai jenuh, dan bentuk kristal mana yang akhirnya diambil lemaknya — tapi aturan orde pertamanya sederhana dan ia berlaku:

Makin banyak asam stearat (C18:0) dan palmitat (C16:0), makin keras lemaknya. Makin banyak asam oleat tercampur, makin lunak dan makin rendah titik lelehnya.

Itu sebabnya ketiga bahan ini disebut mentega dan minyak bunga matahari tidak. Itu juga sebabnya mentega yang sama berbeda perilaku di gudang ber-AC dan di gudang tanpa AC: rentang leleh lemak-lemak ini duduk persis di suhu yang benar-benar dicapai ruangan, mobil dan rak toko di sini.

Kejenuhan membeli satu hal lagi. Oksidasi lipid berjalan terutama lewat rantai tak jenuh, sehingga lemak yang dua pertiganya jenuh sederhananya punya lebih sedikit tempat untuk itu daripada minyak tak jenuh ganda. Itu mengurangi kerentanan; ia tidak menghapus kebutuhan uji stabilitas, karena setiap mentega ini tetap membawa asam oleat, dan umur simpan juga bergantung pada antioksidan dan prooksidan yang ada, pada pengolahan, pada kemasan dan pada penyimpanan. Seberapa besar suhu menagih di sini ada angkanya — satu-satunya yang dikerjakan di Indonesia, dengan batasan pembacaan yang dijelaskan di bagian tengkawang di bawah.

Di meja kerja: ketika sebuah balm terlalu keras atau terlalu lunak, angka pertama yang dilihat bukan persentase lilinnya. Ia angka stearat-plus-palmitat mentega itu, pada sertifikat lot yang benar-benar Anda pakai.

Masalah kita kebalikan dari masalah resep yang Anda baca

Di sinilah sebagian besar resep dari internet menyesatkan formulator Indonesia, dan ini layak dijelaskan dengan tepat.

Empat lemak inti mangga Thailand yang diteliti Sonwai dan Ponprachanuvut di Journal of Oleo Science (2014) menunjukkan kandungan lemak padat tinggi pada 20 °C dan di bawahnya, meleleh perlahan saat suhu naik, dan menjadi cairan sempurna saat suhu mendekati 35 °C.

Sekarang taruh angka BMKG di sebelahnya. Suhu maksimum permukaan 29–34 °C. Di dalam mobil yang diparkir, di dalam kotak paket kurir di siang hari, di dalam tas belanja di atas motor — lebih tinggi lagi.

Rentang 20 °C sampai 35 °C itu, yang bagi formulator di iklim sedang adalah "seluruh musim panas dan sedikit lebih", bagi kita adalah hari kerja biasa dari pagi ke sore. Formulator Eropa bekerja melawan ujung bawah rentang itu: seluruh masalahnya adalah balm yang mengeras jadi batu di kamar tanpa pemanas dan tidak bisa dioles. Kita bekerja melawan ujung atasnya, dan masalah kita adalah lemak yang tidak mau mempertahankan bentuknya.

Konsekuensinya nyata dan bisa dihindari: resep yang dirancang supaya bisa dioles di ruangan 18 °C akan menjadi genangan di sini. Ambil formula body butter dari blog berbahasa Inggris yang dilunakkan dengan tambahan minyak cair supaya tidak mengeras di musim dingin, buat di Surabaya di bulan Oktober, dan Anda mendapat sesuatu yang tidak akan pernah kembali padat.

Arah perbaikannya juga kebalikan dari yang disarankan resep-resep itu. Ketika mereka menulis "kurangi mentega kerasnya, tambah minyak cair", Anda hampir selalu perlu melakukan yang sebaliknya: naikkan proporsi lemak kaya stearat, kurangi minyak cair. Dan ketika mereka memperingatkan agar tidak memakai terlalu banyak stearin karena produknya tidak akan menyebar — peringatan itu ditulis untuk ruangan yang tidak Anda miliki.

Di meja kerja: tulis dua suhu sebelum Anda memilih mentega — suhu tertinggi yang akan ditemui produk dalam pengiriman dan penyimpanan, dan suhu terendah tempat ia akan dipakai — lalu uji pada keduanya. Untuk sebagian besar produk Indonesia yang dijual langsung ke konsumen Indonesia, "tetap padat pada 33 °C" adalah kendala yang sulit, bukan "bisa dioles pada 16 °C". Kalau Anda tidak punya inkubator, oven dengan termometer atau mobil terparkir dengan termometer sudah cukup untuk uji pertama — asal suhunya dicatat.

Siapa saja anggotanya, dalam angka

Tengkawang — anggota lokal, dan yang datanya paling relevan buat kita

Mulai dari yang paling dekat, karena ia hampir selalu dilewati.

Tengkawang (Shorea stenoptera, dalam bahasa Inggris illipe butter atau Borneo tallow nut) adalah lemak nabati asli Kalimantan. Darmawan dan kolega dari Universitas Indonesia dan BRIN, di Heliyon (2023), merangkum komposisinya: didominasi asam stearat 42–44 %, oleat 31–33 %, dan palmitat 19–21 %. Mereka juga mencatat dari literatur sebelumnya bahwa mentega tengkawang punya suhu penyelesaian leleh yang sama dengan mentega kakao dan menunjukkan fat bloom yang lebih lambat pada produk akhir — itulah sebabnya ia diperdagangkan sebagai cocoa butter equivalent.

Angka 42–44 % stearat menaruh tengkawang di ujung keras kelompok ini, di atas rentang tengah shea dan setara dengan kakao. Untuk brief "tidak boleh meleleh", itu berita bagus.

Studi yang sama juga memberi satu-satunya kajian kinetika penyimpanan untuk lemak nabati yang kami temukan dikerjakan di Indonesia — dan angkanya layak dibaca dengan tepat, karena mudah dikutip salah. Studi itu punya dua percobaan. Yang pertama penyimpanan nyata: 35 hari pada −5, 5, 24 dan 60 °C. Yang kedua uji tekanan Rancimat menurut ISO 6886 pada 100, 110, 120 dan 130 °C (§2.5).

Angka Q10 = 2,815 yang sering dikutip — termasuk oleh kami di versi pertama tulisan ini — datang dari percobaan kedua. Menurut §2.6, penulis meregresikan logaritma indeks stabilitas oksidasi terhadap keempat suhu Rancimat itu lalu mengekstrapolasikannya ke 22 °C, suhu gudang. Jadi "laju oksidasi hampir tiga kali lipat tiap sepuluh derajat" adalah kemiringan sebuah model yang dibangun pada suhu yang tidak pernah dicapai gudang mana pun, diproyeksikan ke bawah oleh penulisnya sendiri. Itu cara kerja yang lazim di industri lemak, dan penulisnya mencatat hampir semua bahan pangan punya Q10 antara 1,5 dan 3,0 — tapi ia bukan termometer di rak Anda.

Baris antioksidannya menyimpan satu kejutan yang berguna. Pada 200 mg/kg, OSI pada 22 °C naik untuk ketiganya — dari 66.896 jam menjadi 224.680 (asam askorbat), 106.120 (tokoferol) dan 81.658 (lignin). Tapi Q10-nya tidak: 1,993 dengan asam askorbat, 2,725 dengan tokoferol, dan 2,961 dengan lignin — lebih tinggi daripada 2,815 milik mentega polos. Lignin memperpanjang umur simpannya sekaligus membuatnya lebih peka terhadap suhu. "Menaikkan stabilitas" dan "membuat tahan panas" ternyata dua hal berbeda, dan di iklim ini yang Anda beli adalah yang kedua.

Satu peringatan yang penulisnya sendiri sampaikan: penyimpanan tengkawang secara tradisional dilakukan dalam wadah bambu ("salai"), dan proses tradisional itu menyebabkan lipolisis dan oksidasi yang menurunkan mutunya. Sampel dalam studi itu dimurnikan lebih dulu lewat degumming, netralisasi dan pemucatan. Tengkawang yang Anda beli dari pengumpul mungkin bukan tengkawang yang diukur di studi itu.

Di meja kerja: tengkawang adalah kandidat pertama yang harus Anda coba ketika brief-nya "tidak boleh meleleh dan harus lokal". Minta bilangan asam dan bilangan peroksida per lot, dan tanyakan apakah lemaknya sudah dimurnikan — perbedaan antara tengkawang tradisional dan tengkawang terproses ada di kedua angka itu, bukan di komposisi asam lemaknya.

Mentega kakao — yang paling keras dan paling terkarakterisasi

Mentega kakao adalah anggota rujukan keluarga ini. Dalam studi 2017 di Foods oleh Azir dan kolega (PubMed 29120362) yang memakai mentega kakao otentik sebagai dasar untuk mendeteksi pemalsuan dengan lemak babi, lemak murninya keluar pada 33,74 persen total asam lemak tak jenuh — jadi kira-kira dua pertiga jenuh, didominasi asam palmitat dan stearat.

(Perhatikan apa yang sedang dideteksi studi itu. Pemalsuan mentega kakao dengan lemak babi adalah masalah yang cukup nyata sampai ada metode analitis yang dikembangkan untuknya. Itu bukan kekhawatiran teoretis di pasar ini.)

Trigliseridanya luar biasa seragam, dan keseragaman itulah sebab perilakunya. Tiga spesies menyumbang hampir sembilan puluh persen lemaknya:

TrigliseridaPersen mentega kakao
POS — palmitoil-oleoil-stearoil-gliserol41,67
SOS — stearoil-oleoil-stearoil28,47
POP — palmitoil-oleoil-palmitoil19,13

Pada masing-masing, asam oleat duduk di posisi tengah (sn-2) dengan palmitat atau stearat di posisi luar. Mentega kakao mengkristal dalam beberapa bentuk polimorfik dan profil lelehnya bergantung pada komposisi itu dan pada bentuk yang hadir.

Untuk mutu, tolok ukur publiknya adalah Codex CXS 86-1981, yang mendefinisikan mentega kakao lewat dua batas: kadar asam lemak bebas, dinyatakan sebagai asam oleat, tidak lebih dari 1,75 % m/m, dan bahan tak tersabunkan tidak lebih dari 0,7 % m/m, atau 0,35 % untuk mentega kakao pres. Baca ruang lingkupnya sebelum Anda bersandar padanya: standar itu "berlaku secara eksklusif untuk mentega kakao yang digunakan sebagai bahan dalam pembuatan cokelat". Ia spesifikasi pangan. Ia juga satu-satunya angka publik yang bisa dipakai mengukur kebanyakan pemasok, dan mentega kakao yang gagal memenuhinya adalah pertanyaan.

Di meja kerja: mentega kakao adalah lemak penstruktur dari ketiganya dan yang paling terlambat meleleh di kulit. Ia tepat untuk produk bibir dan untuk ujung keras balm — dan di iklim kita, "ujung keras" adalah tempat yang lebih sering Anda butuhkan daripada yang disangka resep-resep impor.

Shea — yang paling bervariasi, dan variasinya punya kode pos

Shea adalah tempat "shea butter" berhenti menjadi spesifikasi yang berguna.

Survei 2010 di Journal of Oleo Science (PubMed 20513968) menganalisis 36 sampel shea (Vitellaria paradoxa) dari tujuh negara sub-Sahara dan menemukan asam stearat berkisar dari 28 sampai 56 persen dan asam oleat dari 34 sampai 61 persen. Provenansi Afrika Barat umumnya lebih tinggi baik dalam asam stearat maupun alkohol triterpena daripada Afrika Timur, dan keduanya berkorelasi bermakna dengan lintang dan ketinggian populasi sumbernya — yang penulisnya baca sebagai kadar lebih tinggi pada suhu lingkungan yang lebih tinggi.

Di Vincenzo dan kolega di Journal of Agricultural and Food Chemistry (2005), bekerja dengan 150 sampel dari Mali, Burkina Faso, Nigeria dan Uganda, menemukan pembelahan yang sama dari arah lain: asam stearat dominan pada shea Afrika Barat, asam oleat dominan pada shea Uganda, dengan rata-rata negara untuk triterpena poliklik asetil dan sinamil dari 3,69 sampai 12,57 persen, tertinggi pada provenansi Nigeria.

Anggap serius kedua ujung rentang stearat itu. Shea 56 persen stearat dan shea 28 persen stearat adalah, untuk keperluan Anda, dua bahan baku berbeda yang berbagi satu nama. Dalam balm keduanya akan memberi dua produk berbeda dari resep yang sama, dan tidak ada sertifikat yang salah.

Di iklim kita, konsekuensinya lebih besar daripada di tempat lain. Shea 28 persen stearat, yang di Eropa terasa "mudah dioles", di sini bisa langsung gagal memenuhi kendala "tetap padat pada 33 °C". Angka yang sama, hasil yang berbeda, karena batasnya berbeda.

Fraksi tak tersabunkan shea juga luar biasa besar untuk sebuah lemak — survei 2010 menaruh lipid tak tersabunkan pada 2–12 persen dari lemaknya, dengan alkohol triterpena menyusun 22–72 persen dari fraksi itu, berbanding plafon Codex mentega kakao sebesar 0,7 persen. Ia membawa tokoferolnya sendiri juga: Maranz dan Wiesman (2004) mengukur 102 sampel dari 11 negara dan menemukan total tokoferol dari 29 sampai 805 mikrogram per gram, rata-rata 220, dengan alfa-tokoferol sebagai bentuk utama pada rata-rata 64 persen — N'Djamena di Chad yang panas dan kering rata-rata 414 µg/g dan Uganda utara yang sejuk 29 µg/g. Apa isi fraksi itu dan berapa harganya dibahas di refined atau unrefined.

Di meja kerja: minta pemasok Anda negara asal lot shea itu, dan angka stearat serta oleat pada lot itu — bukan rentang di halaman produk. Kalau mereka berganti asal antar pengiriman, perlakukan sebagai pergantian bahan baku: periksa ulang profilnya dan uji ulang produknya. Ini pertanyaan tunggal yang paling mungkin menjelaskan kenapa batch ulangan keluar berbeda.

Mangga — yang di tengah, dan yang paling berisiko di sini

Empat kultivar Thailand dalam studi 2014 punya asam oleat dan stearat sebagai asam lemak utamanya pada setiap kasus, dengan kandungan stearat bervariasi menurut kultivar — Nam-Dokmai tertinggi, Aok-Rong terendah — dan karenanya titik leleh slip serta kandungan lemak padat yang berbeda-beda. Keempatnya meleleh sempurna saat suhu mendekati 35 °C, dan difraksi sinar-X menunjukkan β′ sebagai polimorf yang dominan.

Baca kalimat "meleleh sempurna saat suhu mendekati 35 °C" sekali lagi dengan angka BMKG di kepala. Mentega mangga adalah anggota kelompok ini yang paling dekat dengan batas kegagalan di iklim kita. Ia bukan pilihan buruk — ia pilihan yang tidak boleh dipakai sendirian sebagai struktur pada produk yang akan dikirim lewat kurir.

Itu studi lemak inti mangga Thailand, bukan mentega mangga komersial di rak pemasok Indonesia, yang mungkin campuran kultivar dan proses berbeda. Ia cukup untuk menempatkan mangga di kelompok kaya stearat dan untuk mengatakan bahwa posisi lot tertentu harus datang dari sertifikatnya sendiri.

Di meja kerja: mangga adalah mentega yang dicoba ketika shea tepat secara struktur tapi salah secara rasa. Tukar pada persentase yang sama, lalu periksa ulang kekerasannya pada 33 °C, bukan hanya pada suhu meja kerja. Kandungan stearatnya tidak sama dan kekerasannya akan bergeser.

Sawit dan fraksinya — anggota industri, dan ia tumbuh di sini

Minyak sawit punya data publik paling lengkap dari semua lemak di sini, fraksinya adalah ilustrasi paling jelas tentang apa yang dilakukan kandungan jenuh — dan berbeda dari shea, kakao dan mangga, ia diproduksi di dalam negeri. Dari Codex CXS 210-1999:

BahanAsam palmitatAsam oleatBilangan iodTitik slip (Codex §3.3)
Minyak sawit39,3–47,5 %36,0–44,0 %50,0–55,0
Stearin sawit (fraksi padat)48,0–74,0 %15,5–36,0 %≤ 48tidak kurang dari 44 °C
Olein sawit≥ 56tidak lebih dari 24 °C
Superolein sawit (fraksi paling cair)30,0–39,0 %43,0–49,5 %≥ 60tidak lebih dari 19,5 °C

Putar ponsel Anda untuk melihat tabel seutuhnya

Satu bahan baku, tiga pilihan penstruktur, dan titik slipnya memberi tahu masing-masing untuk apa. Tapi sebelum Anda memakai angka 44 °C itu sebagai janji, baca dulu apa sebenarnya yang diukurnya — karena di sinilah partai barang meleleh di jalan.

Titik slip bukan ambang "di bawah ini tidak melunak". Codex §8.2 menunjuk metodenya: ISO 6321, "penentuan titik leleh dalam tabung kapiler terbuka, umum dikenal sebagai titik leleh slip". Yang diukur adalah suhu ketika kolom lemak mulai bergerak di dalam kapiler. Sebuah lemak sudah melunak jauh sebelum itu: kandungan lemak padatnya turun bertahap sepanjang kenaikan suhu — persis seperti yang ditunjukkan Sonwai pada lemak mangga, yang punya SFC tinggi pada 20 °C dan baru benar-benar cair mendekati 35 °C. Standar yang sama juga mencatat bahwa hasilnya bergantung pada polimorfisme, dan untuk sampel minyak sawit metode khususnya ada di Annex A.

Tiga konsekuensi, dan ketiganya menyangkut uang Anda:

  • Angka itu milik lemak murni, bukan campuran Anda. Begitu stearin sawit diencerkan dengan minyak cair, balm Anda tidak lagi punya titik slip 44 °C; ia punya profil lelehnya sendiri, yang harus diukur. Ini persis peringatan yang berlaku untuk penstruktur mana pun dan yang dibahas di cara mengubah minyak badan jadi balm.
  • "Tidak kurang dari 44 °C" adalah batas bawah spesifikasi, bukan ramalan perilaku. Ia memberi tahu Anda bahwa lot yang patuh tidak akan lebih lunak dari itu pada uji kapiler — tidak lebih.
  • Suhu di dalam mobil terparkir di bawah matahari tidak dibatasi oleh suhu udara, apalagi oleh 44 °C. Kami tidak punya pengukuran Indonesia yang bisa kami buka dan pertanggungjawabkan untuk angkanya, jadi kami tidak akan menyebut angka — tapi justru karena itu, mobil terparkir adalah tempat terakhir yang boleh Anda jadikan dasar janji.

Yang benar untuk dikatakan: stearin sawit adalah penstruktur paling keras yang bisa Anda beli dalam rupiah dari pemasok dalam negeri, dan itu alasan kuat ia muncul di balm dan body butter komersial di sini. Yang tidak boleh dikatakan adalah bahwa ia menjamin produk jadi Anda bertahan di dashboard.

Perhatikan dua baris terakhir dengan mata Indonesia. Olein sawit, pada tidak lebih dari 24 °C, adalah cairan di suhu ruangan kita sepanjang tahun. Superolein, pada tidak lebih dari 19,5 °C, lebih cair lagi. Di panduan berbahasa Inggris, olein sering digambarkan sebagai "semi-padat di musim dingin" — di sini ia minyak, titik. Kalau resep memakainya sebagai komponen penstruktur, resep itu tidak ditulis untuk Anda.

Kalau sebuah merek membuat pernyataan keberlanjutan tentang sawit, ia harus menyebut skema sertifikasi dan material atau rantai pasok bersertifikat yang dirujuknya.

Di meja kerja: kalau Anda butuh lemak yang mempertahankan bentuk di dalam paket kurir di bulan Oktober, persentase kecil stearin sawit melakukannya lebih terduga daripada menambah shea — dan ia dibeli dalam rupiah dari pemasok dalam negeri, bukan diimpor. Kalau masalahnya sebaliknya dan produknya terlalu keras untuk dioles, stearin sawit adalah yang pertama dikurangi.

Kekerasan, leleh dan rasa: apa yang diramalkan angka dan apa yang tidak

Kekokohan mengikuti kandungan jenuh, secara garis besar. Mentega kakao, pada sekitar dua pertiga jenuh, adalah yang paling keras sebagai bahan baku; tengkawang pada 42–44 % stearat setara dengannya; shea kaya stearat keras; shea kaya oleat cukup lunak untuk dioles langsung dari wadah; mangga duduk di antaranya, tergantung kultivar. Rasa mengikuti sumbu yang sama: mentega kakao meleleh terlambat di kulit dan bisa terasa seperti lilin sampai ia meleleh, shea meleleh lebih awal dan meninggalkan film yang lebih kaya, dan mangga sering digambarkan lebih kering daripada shea pada persentase sama. Pengamatan terakhir itu penilaian sensori dari pekerjaan formulasi, bukan pengukuran, dan ia bergerak bersama segala sesuatu yang lain di formula. Komposisi menyarankan arah yang harus diharapkan; ia tidak memberi tahu sejauh apa, dan ia tidak menetapkan apa pun tentang kekerasan, asal, keaslian atau pemurnian dengan sendirinya.

Dua hal yang jelas tidak diramalkan komposisi, dan Anda harus mengujinya:

  • Bentuk kristal. Trigliserida yang sama bisa menumpuk dalam beberapa susunan dengan titik leleh dan tekstur berbeda. Itu sebabnya produk mentega kakao bisa memutih, balm shea jadi berpasir, dan mentega mangga mengeras berbeda antar batch.
  • Perilaku pada suhu yang benar-benar akan ditemui produknya. Bukan suhu meja kerja. Dua suhu yang Anda tulis di awal.

Di meja kerja: simpan termometer murah di ruangan tempat Anda memformulasi dan tulis suhunya di setiap lembar percobaan. Separuh misteri "kok waktu itu berhasil" dalam kerja mentega adalah selisih lima derajat di ruangan yang tidak dicatat siapa pun — dan di ruangan tanpa AC, selisih lima derajat antara pagi dan sore adalah hal biasa.

Mendosis mentega untuk struktur

Praktik, untuk divalidasi pada tiap produk. Perlakukan mentega sebagai penstruktur dulu, emolien kemudian.

  • Dalam balm dan body butter anhidrat, menteganya adalah strukturnya. Porsi mentega kaya stearat — kakao, tengkawang, shea Afrika Barat, stearin sawit — menetapkan kekerasannya; mentega kaya oleat dan minyak cair melunakkannya. Tambahkan lilin hanya ketika menteganya sendiri tidak bisa mempertahankan bentuk pada suhu target — dan di sini suhu target itu 33 °C, bukan 25 °C.
  • Dalam emulsi air-dalam-minyak, mentega di fase luar memberi rasa kaya dan melapisi yang mendefinisikan format itu. Porsinya dibatasi oleh seberapa berat produknya boleh terasa dan seberapa baik ia menyebar — dan di kelembapan 73–89 %, "seberapa berat" adalah batas yang lebih ketat daripada di udara kering.
  • Dalam krim minyak-dalam-air, mentega adalah minoritas fase minyak, dipakai untuk rasa dan film yang lebih penuh. Terlalu banyak membuat krim menarik saat dioles dan bisa membuatnya berpasir di dalam wadah. Struktur emulsi itu sendiri yang menahan produknya, bukan menteganya — yang juga merupakan alasan mengganti mentega jarang jadi solusi untuk krim berminyak; itu dibahas di kenapa krim buatan saya terasa lengket.
  • Refined atau unrefined adalah keputusan formulasi, bukan kebajikan. Pemurnian memberi lemak yang lebih pucat dan kurang berbau; apa yang dilakukan proses tertentu terhadap fraksi tak tersabunkan adalah pertanyaan untuk pemasok, dan shea refined serta unrefined tidak bisa saling menggantikan dalam rasa bahkan ketika profil asam lemaknya mirip.

Di meja kerja: ganti satu mentega dalam satu waktu dan ukur ulang pada kedua suhu target sebelum mengganti apa pun yang lain. Dua penukaran serentak dalam campuran lemak tidak bisa diurai sesudahnya.

Halal: pengeras adalah titik kritis, bukan tambahan

Ini bagian yang tidak ada di satu pun literatur mentega, dan di Indonesia ia punya tenggat.

Mulai 18 Oktober 2026, menurut Kepala BPJPH, kosmetik wajib bersertifikat halal berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2014 dan PP Nomor 42 Tahun 2024 — kosmetik adalah kategori ketiga dari tujuh golongan wajib. Dan pada produk anhidrat — balm, body butter, lip balm — hampir seluruh formula terdiri dari kelas bahan yang justru merupakan titik kritis.

Peraturan Kepala BPOM HK.03.1.23.06.10.5166 mendefinisikan "Bahan Tertentu" sebagai bahan "yang bersumber atau mengandung atau berasal dari hewan, baik dalam bentuk tunggal atau campuran atau produk olahan atau turunannya", dan Pasal 2 menyebut daftarnya. Empat baris dari daftar itu adalah seluruh isi balm Anda: lemak, minyak, pengental, dan pemantap — ditambah gliserin dan mono-/di-/trigliserida kalau Anda memakainya. (Peraturan itu ruang lingkupnya obat, obat tradisional, suplemen makanan dan pangan, bukan kosmetik; kami mengutipnya karena inilah definisi dan daftar paling jelas yang diterbitkan regulator kita. Untuk kosmetik, kewajiban mencantumkan asal bahan tertentu ada di PerBPOM 18/2024 Pasal 6, dengan rincian teknis diatur peraturan BPOM tersendiri — periksa versi berlakunya.)

Tiga bahan spesifik yang paling sering jadi masalah pada produk keras:

  • Asam stearat dan stearin. Ketika Anda mengeraskan formula — dan di iklim ini Anda akan mengeraskannya — pengeras yang paling murah dan paling mudah didapat sering dijual sekadar sebagai "asam stearat" atau "stearic acid". Asam stearat dapat dibuat dari minyak nabati dan dapat dibuat dari lemak hewani, dan nama INCI-nya sama persis. Stearin sawit dari pemasok dalam negeri punya asal yang jelas; "asam stearat" generik dari toko bahan kimia belum tentu.
  • Lanolin. Berasal dari bulu domba. Ia bahan hewani menurut definisi apa pun, dan statusnya harus dipastikan lewat sertifikat, tidak diasumsikan.
  • Lilin lebah (beeswax). Bahan hewani juga, meskipun dari serangga. Sama seperti yang lain: yang menentukan bukan tebakan Anda, melainkan dokumen pemasok.

Sebelum Anda menyiapkan map dokumen untuk tiap baris formula, ketahui batas kewajibannya — ia menghemat pekerjaan nyata. Tidak setiap bahan wajib punya sertifikat halal sendiri. BPJPH menjelaskan bahwa KMA Nomor 1360 Tahun 2021 mengatur bahan yang dikecualikan, dalam tiga kategori: bahan dari alam berupa tumbuhan dan bahan tambang tanpa proses pengolahan — termasuk bahan dari tumbuhan yang hanya "diolah secara fisik dan tanpa adanya penambahan bahan penolong, bahan tambahan, atau bahan lain"; bahan yang tidak berisiko mengandung bahan yang diharamkan; dan bahan yang tidak tergolong berbahaya serta tidak bersinggungan dengan bahan haram. Daftar rincinya ada di lampiran KMA itu.

Perhatikan ke mana itu menempatkan rak Anda, karena pembagiannya rapi dan berguna. Mentega yang dipres dan tidak diolah lebih lanjut duduk dekat kategori pertama. Pengeras yang dibeli terpisah tidak. Asam stearat generik adalah produk olahan dengan bahan penolong dan bahan baku yang asalnya harus diketahui; lanolin dan lilin lebah berasal dari hewan sejak awal. Untuk bahan-bahan itu, sikap yang dianjurkan Herdiana dan kolega di Heliyon (2024) — tinjauan ilmiah bidang farmasi, bukan kutipan peraturan — sepadan dengan biayanya: dokumentasikan status halal setiap bahan dari pemasoknya, dan pastikan produksi halal dipisahkan secara fisik dari produksi non-halal dengan kontaminasi silang dicegah.

Perhatikan bagaimana ini bertabrakan dengan bagian sebelumnya, karena tabrakannya khas untuk pasar ini. Iklim mendorong Anda menaikkan kandungan stearat. Menaikkan kandungan stearat mendorong Anda ke arah pengeras yang dibeli terpisah. Pengeras yang dibeli terpisah adalah bahan yang paling mungkin tidak punya dokumen asal. Penyesuaian iklim dan risiko halal mendorong ke arah yang sama, pada bahan yang sama.

Di meja kerja: ketika Anda memutuskan mengeraskan formula, putuskan sekaligus dengan apa dan dari pemasok mana yang punya sertifikat. Untuk sebagian besar kasus di sini, stearin sawit dan tengkawang dari pemasok bersertifikat menyelesaikan kedua masalah dalam satu pembelian; asam stearat generik menyelesaikan satu dan membuka satu lagi.

Kalau produksinya lewat maklon

Banyak merek kecil di Indonesia tidak memproduksi sendiri. Kalau itu jalan Anda, tiga hal berubah dan layak diketahui sebelum Anda memilih mentega, bukan sesudahnya.

Siapa pemegang nomor notifikasinya. PerBPOM 3/2022 Pasal 1 angka 6 mendefinisikan Pemilik Nomor Notifikasi sebagai "industri Kosmetika, importir Kosmetika, dan usaha perorangan/badan usaha yang melakukan kontrak produksi yang menerima pemberitahuan Kosmetika telah dinotifikasi". Artinya: kalau Anda menitipkan produksi, Andalah pemegang notifikasinya — dan konsekuensinya, Pasal 4 peraturan yang sama menaruh kewajiban menjamin klaim pada Penandaan dan Iklan di pundak pemegang notifikasi. Pabriknya membuat; tanggung jawab labelnya tetap di Anda.

Bagaimana labelnya terbaca. Lampiran I PerBPOM 18/2024 memberi contoh untuk "Kosmetik kontrak": yang dicantumkan adalah nama dan alamat pemilik nomor notifikasi ditambah "Produksi di Indonesia" — nama pabrik penerima kontrak tidak muncul. Itu bagus untuk merek Anda dan berat untuk Anda: pembeli akan menghubungi Anda, bukan pabriknya.

Siapa yang memilih bahannya. Di sinilah bagian iklim di atas jadi praktis. Pabrik maklon punya daftar bahan yang biasa ia pakai, dan daftar itu sering sudah dioptimalkan untuk iklim sini — tapi belum tentu untuk brief Anda. Kalau Anda ingin tengkawang alih-alih stearin sawit, atau shea dari asal tertentu, itu harus ada di brief tertulis dengan angka, bukan diasumsikan. Dan sisi halalnya ikut pindah: kalau pabriknya mengganti pemasok stearatnya, formula Anda berubah asal bahan tanpa Anda mengubah apa pun.

Di meja kerja: masukkan ke dalam perjanjian maklon Anda dua hal yang orang lupa: kewajiban memberi tahu bila ada pergantian pemasok bahan, dan spesifikasi suhu untuk uji produk jadi (misalnya "tetap padat setelah 24 jam pada 35 °C"). Yang pertama menjaga berkas halal Anda tetap benar; yang kedua menjaga produk Anda tetap padat di motor kurir.

Membaca sertifikat analisis mentega

  1. Persentase stearat dan oleat. Untuk shea, kedua angka ini menempatkan lot itu di dalam rentang terbit yang lebar (28–56 dan 34–61 persen) dan merupakan petunjuk pertama kekerasannya. Untuk mangga, keduanya menunjukkan posisi kultivarnya. Untuk kakao dan tengkawang, keduanya bisa dibandingkan dengan pola yang sudah terkarakterisasi baik.
  2. Asal. Terutama untuk shea. Survei yang terbit menunjukkan komposisi mengikuti provenansi; pergantian asal antar batch adalah alasan memeriksa ulang profil dan menguji ulang produk.
  3. Bahan tak tersabunkan. Tinggi untuk shea (2–12 persen dari lemaknya dalam survei 2010), rendah untuk kakao menurut standar pangan (tidak lebih dari 0,7 % m/m). Sertifikat shea yang jauh di bawah rentang terbit adalah pertanyaan tentang bahan dan pengolahannya.
  4. Asam lemak bebas. Codex membatasi mentega kakao pada 1,75 % m/m sebagai asam oleat. Untuk produk sawit berlaku faktor mutu standar minyak nabati, dan di sini ada satu baris yang sering terlewat: bilangan asam 0,6 mg KOH per gram untuk minyak refined, 4,0 untuk cold pressed dan virgin — tetapi Lampiran CXS 210-1999 memberi baris tersendiri, **10,0 mg KOH/g untuk virgin palm oils**. Memakai 4,0 untuk minyak sawit virgin berarti menolak lot yang sebenarnya patuh.

Untuk tiga mentega lainnya, peta standarnya berbeda-beda dan bukan "tidak ada sama sekali". **Shea punya standar Codex sendiri: CXS 325R-2017, Regional Standard for Unrefined Shea Butter, standar regional Afrika yang terdaftar di katalog standar regional Codex. Ia standar pangan dan regional — bukan hukum kosmetik Indonesia, dan bukan sesuatu yang otomatis mengikat pemasok Anda — tapi ia ada, ia menetapkan persyaratan mutu untuk shea unrefined, dan meminta pemasok menyebutkan posisi lotnya terhadapnya adalah permintaan yang wajar. Mangga dan tengkawang** memang tidak punya entri Codex, sehingga di sana spesifikasi pemasok benar-benar satu-satunya rujukan — yang merupakan alasan membacanya, bukan alasan melewatinya.

  1. Titik leleh slip, atau profil leleh, kalau pemasok menyediakannya. Untuk sebuah penstruktur inilah angka yang paling penting dalam pemakaian, dan inilah yang paling sering hilang dari etalase daring. Tanyakan. Di iklim ini angka itu bukan keingintahuan, ia spesifikasi.
  2. Posisi bahan itu terhadap KMA 1360/2021, lalu sertifikat halal atau pernyataan asal bahan. Untuk mentega yang hanya dipres, jawabannya sering berhenti di kategori yang dikecualikan; untuk asam stearat, lanolin dan lilin lebah, tidak. Mulai 18 Oktober 2026 ini bukan kolom tambahan — tapi ia juga bukan kolom yang wajib terisi untuk setiap baris.

Di mana kelompok ini berada

FormatApa yang dikerjakan menteganyaApa yang didukung bukti
Balm anhidrat, stik, body butterLemak strukturalnya, kadang dengan lilinLemak kaya jenuh menahan struktur padat di suhu ruang; lemak mangga yang diteliti punya SFC tinggi pada ≤20 °C dan cair sempurna mendekati 35 °C
Produk bibirMentega kakao dan tengkawang untuk patahan dan ketahananKomposisi POS/SOS/POP mentega kakao dan polimorfismenya mengatur lelehnya; tengkawang punya suhu penyelesaian leleh yang sama
Krim air-dalam-minyakKekayaan fase luarRasa melapisi yang dilaporkan formulator; porsi dibatasi oleh keberatan rasa
Krim minyak-dalam-airMinoritas fase minyakStruktur datang dari emulsinya; berlebih membuat menarik dan bisa berpasir
Produk yang dikirim kurir di IndonesiaMentega kaya stearat, tengkawang, atau sedikit stearin sawit — lalu diuji pada suhu target sebagai produk jadiTitik slip Codex untuk stearin sawit murni tidak kurang dari 44 °C; titik slip campuran Anda adalah angka lain yang harus Anda ukur sendiri
Produk yang dipakai di ruangan tanpa ACSama — ini bukan kasus terpisah di siniMaksimum harian BMKG 29–34 °C; olein sawit pada titik slip ≤24 °C sudah cair

Putar ponsel Anda untuk melihat tabel seutuhnya

Kelompok mentega adalah satu-satunya kelompok dalam seri ini yang komposisinya memihak Anda untuk oksidasi dan melawan Anda untuk konsistensi. Lemak kaya jenuh menahan oksidasi dan mempertahankan bentuk — dan mereka juga mengkristal dalam lebih dari satu cara dan meleleh pada suhu yang benar-benar ditemui produk. Di Indonesia sumbu kedua itu yang menagih lebih dulu. Baca angka stearat dan oleatnya, ketahui dari mana shea Anda datang, perlakukan profil leleh sebagai spesifikasi dan bukan keingintahuan, tanyakan asal setiap pengeras, dan uji pada 33 °C sebelum Anda mengirim apa pun. Komposisi memberi tahu pilihan itu. Ia tidak meramalkan stabilitas atau rasa produk jadi, yang harus divalidasi pada tiap formulasi dan tiap batch produksi.

Sumber

  • Azir M. et al. Detection of lard in cocoa butter: its fatty acid composition, triacylglycerol profiles, and thermal characteristics. Foods 6(11), 98, 2017. PubMed 29120362 — angka trigliserida dibaca dari Tabel 2 teks lengkap.
  • Akihisa T. et al. Triterpene alcohol and fatty acid composition of shea nuts from seven African countries. Journal of Oleo Science 59(7), 351–360, 2010. PubMed 20513968
  • Di Vincenzo D. et al. Regional variation in shea butter lipid and triterpene composition in four African countries. Journal of Agricultural and Food Chemistry 53(19), 7473–7479, 2005. PubMed 16159175
  • Maranz S., Wiesman Z. Influence of climate on the tocopherol content of shea butter. Journal of Agricultural and Food Chemistry 52(10), 2934–2937, 2004. PubMed 15137838
  • Sonwai S., Ponprachanuvut P. Studies of fatty acid composition, physicochemical and thermal properties, and crystallization behavior of mango kernel fats from various Thai varieties. Journal of Oleo Science 63(7), 661–669, 2014. PubMed 24919475
  • Darmawan M. A. et al. Shelf life of indigenous tengkawang butter: storage kinetic and effect of antioxidant to oxidation stability index. Heliyon 9(5), e15643, 2023. PMC10160515 · PubMed 37153381 — §2.2 penyimpanan pada −5, 5, 24, 60 °C; §2.5 Rancimat (ISO 6886) pada 100–130 °C; §2.6 dan Tabel 3: Q10 dihitung dari regresi OSI terhadap suhu Rancimat dan diekstrapolasi ke 22 °C.
  • Herdiana Y. et al. Towards halal pharmaceutical: exploring alternatives to animal-based ingredients. Heliyon 10(1), e23624, 2024. PMC10770512 · PubMed 38187251
  • Codex Alimentarius. Standard for Cocoa Butter, CXS 86-1981 (Rev. 1-2001). FAO PDF — dibuka 23 September 2026.
  • Codex Alimentarius. Standard for Named Vegetable Oils, CXS 210-1999 (diamandemen 2015): §3.3 titik slip, §8.2 metode penentuan titik slip (ISO 6321), Tabel 1 rentang asam lemak, Tabel 2 bilangan iod, Lampiran §1 bilangan asam — termasuk baris tersendiri virgin palm oils 10,0 mg KOH/g. FAO PDF — dibuka 23 September 2026.
  • Codex Alimentarius. Regional Standard for Unrefined Shea Butter, CXS 325R-2017 (Africa). Terdaftar di katalog standar regional CCAFRICA — dibuka 23 September 2026. Standar pangan regional, bukan ketentuan kosmetik Indonesia; teks lengkapnya di workspace.fao.org menolak pengambilan otomatis, sehingga tidak ada angka dari standar itu yang dikutip di sini.
  • ISO 6321:2021, Animal and vegetable fats and oils — Determination of melting point in open capillary tubes — Slip point. Rekam standar di katalog Pusat Standardisasi Estonia (EVS): evs.ee — dibuka 23 September 2026. (Halaman katalog iso.org menolak pengambilan otomatis dengan HTTP 403.)
  • BPJPH. Penting Diketahui, Ini Bahan yang Dikecualikan dari Kewajiban Bersertifikat Halal (KMA Nomor 1360 Tahun 2021; tiga kategori bahan yang dikecualikan). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.
  • BMKG. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Maret 2026 dan Anomali Suhu Udara Rata-Rata Tahun 2025. bmkg.go.id · bmkg.go.id — dibuka 23 September 2026.
  • Peraturan Badan POM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika, Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4. peraturan.bpk.go.id — dibuka 23 September 2026.
  • Peraturan Badan POM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik, Pasal 3, 5, 6 dan Lampiran I. peraturan.bpk.go.id — dibuka 23 September 2026.
  • Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.06.10.5166, Pasal 1–2 (ruang lingkup: obat, obat tradisional, suplemen makanan, dan pangan). teks lengkap — dibuka 23 September 2026.
  • BPJPH. Tak Hanya Makanan-Minuman, Ini Jenis Produk yang Wajib Bersertifikat Halal Mulai 18 Oktober 2026 (dasar: UU Nomor 33 Tahun 2014 dan PP Nomor 42 Tahun 2024; kosmetik kategori 3). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.
  • BPJPH. BPJPH: Produk Kosmetik Wajib Bersertifikat Halal pada Oktober 2026 (perumusan lebih awal: "setelah 17 Oktober 2026"). bpjph.halal.go.id — dibuka 23 September 2026.

Walker Formulation Academy Club

Menikmati artikel ini? Dapatkan akses ke AI Chemist dan video resep

Asisten AI 24/7 menjawab pertanyaan formulasi, menghitung HLB dan pH, serta membantu Anda memilih bahan. Ditambah komunitas privat sesama ahli kimia dan ulasan produk bulanan.

Tanpa kartu kredit · Batalkan kapan saja

Rate this article

Your rating helps other readers find useful guides